Gerhana Bulan 2026: Jadwal dan Wilayah yang Bisa Menyaksikan, Panduan Mengamati Fenomena Langit Langka Ini

kontenstore.com – Gerhana bulan 2026 diprediksi menjadi salah satu fenomena astronomi paling dinanti karena menghadirkan fase total dan sebagian yang dapat diamati dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Berikut jadwal, potensi visibilitas, serta dampaknya bagi masyarakat.
Sebelum lebih jauh mengulas kita dahului dulu dengan apa itu gerhana bulan dan mengapa terjadi. Gerhana bulan terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, dengan Bumi berada di tengah. Posisi ini membuat bayangan bumi jatuh ke permukaan bulan.
Fenomena ini hanya terjadi saat fase bulan purnama. Namun tidak setiap purnama memicu gerhana, karena orbit Bulan sedikit miring terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari.
Jika merujuk pada ilmu tata surya secara astronomis, terdapat tiga jenis gerhana bulan:
Gerhana Penumbral
Bulan hanya melewati bayangan samar Bumi. Perubahannya sangat halus.
Gerhana Sebagian (Parsial)
Sebagian permukaan Bulan tertutup bayangan inti (umbra).
Gerhana Total
Seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam umbra Bumi dan tampak kemerahan. Fase total inilah yang kerap disebut sebagai blood moon atau bulan merah.
Berdasarkan kalender astronomi global, tahun 2026 diperkirakan akan menghadirkan dua peristiwa utama gerhana bulan, yang pertama adalah gerhana bulan total yang di prediksi akan terjadi sekitar bulan maret 2026.
Kemudian yang kedua adalah gerhana bulan sebagian yang diprediksi terjai sekitar bulan agustus 2026. Untuk kedua momen grhana tersebutu kontenstore.com belum bisa memastikan tanggal dan jam pasti.
Lazimnya gerhana bulan 2026 akan dikonfirmasi lebih lanjut oleh lembaga resmi seperti observatorium nasional dan badan antariksa internasional mendekati waktu kejadian.
Wilayah Indonesia sendiri memiliki visibilitas yang sangat bergantung pada waktu puncak gerhana. Jika fase total terjadi pada malam hingga dini hari waktu Indonesia Barat (WIB), maka sebagian besar wilayah Tanah Air berpeluang menyaksikannya secara optimal.
Namun sebaliknya, jika puncak gerhana terjadi saat bulan belum terbit atau sudah terbenam, pengamatan bisa terpotong.
Mengapa Gerhana Bulan Total Tampak Merah?
Ketika fase total, Bulan tidak benar-benar “menghilang”. Ia justru berubah warna menjadi merah tembaga atau jingga gelap. Warna ini muncul karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi dibiaskan dan disaring.
Atmosfer menyebarkan cahaya biru dan membiaskan cahaya merah ke arah bayangan Bumi. Proses yang sama terjadi saat matahari terbenam, ketika langit terlihat kemerahan.
Semakin banyak partikel debu atau polusi di atmosfer, warna Bulan saat gerhana bisa tampak lebih gelap. Jadi jika sebutan bulan merah disimbolkan denan bulan berdarah maka itu belum tentu benar karena inilah penjelasan dari para ahli tentang perubahan warna pada bulan ketika masuk waktu gerhana.
Perlu Anda ketaui juga bahwa tak seua gerhana dilihat dalam keadaan terang, gerhana bulan juga ternyata dapat dilihat dari setengah permukaan bumi yang sedang mengalami malam hari.
Untuk gerhana bulan 2026 yang dirediksi akan terjadi pada bulan maret 2026, sebagian wilayah Asia, Australia, Amerika, dan Pasifik diperkirakan berpeluang menyaksikan fase total. Indonesia termasuk dalam kawasan yang memiliki potensi visibilitas, tergantung waktu puncaknya.
Sementara pada Agustus 2026, sebagian wilayah Eropa, Afrika, dan Asia kemungkinan dapat melihat gerhana sebagian.
Untuk memastikan jadwal kapan gerhana total dan sebagian itu terjadi masyarakat disarankan memantau pembaruan resmi dari lembaga astronomi nasional untuk memastikan waktu terbaik pengamatan di kota masing-masing.

Dampak Gerhana Bulan 2026
Sedikitnya ada tiga pengaruh yang terjadi ketika momen perubahan warna dan visual dari bulan, dan selurunya sepertinya tidak memilik pengaruh yang ekstrim.
1. Tidak Berbahaya untuk Kesehatan
Gerhana bulan aman diamati dengan mata telanjang. Tidak diperlukan kacamata khusus seperti pada gerhana matahari.
Secara ilmiah, tidak ada bukti bahwa gerhana bulan memengaruhi kesehatan manusia atau menyebabkan gangguan cuaca ekstrem.
2. Pasang Surut Laut
Gaya gravitasi Bulan tetap memengaruhi pasang surut air laut. Namun, kondisi saat gerhana tidak berbeda signifikan dibandingkan fase bulan purnama biasa.
Artinya, nelayan dan masyarakat pesisir tidak perlu mengkhawatirkan dampak ekstrem semata karena gerhana.
3. Dampak Sosial dan Budaya
Di beberapa daerah, gerhana bulan masih dikaitkan dengan mitos atau tradisi tertentu. Fenomena ini kerap memicu kegiatan doa bersama atau ritual adat.
Dari sisi sosial, gerhana bulan juga menjadi momen berkumpulnya komunitas astronomi dan masyarakat umum dalam kegiatan pengamatan bersama.
Fenomena langit seperti gerhana bulan memiliki nilai ekonomi yang tidak kecil. Sejumlah daerah memanfaatkan momentum ini untuk menggelar festival langit malam atau astro-tourism.
Hotel di kawasan dengan langit minim polusi cahaya berpotensi mengalami peningkatan okupansi saat peristiwa berlangsung. Fotografer profesional dan kreator konten juga memanfaatkan momen ini untuk menghasilkan karya visual bernilai jual.
Panduan Mengamati Gerhana Bulan 2026
Bagi pembaca yang ingin menyaksikan gerhana bulan 2026 secara optimal, berikut langkah praktis yang dapat dilakukan:
- Pilih Lokasi Minim Polusi Cahaya
- Hindari pusat kota yang penuh lampu. Area terbuka seperti pantai, lapangan, atau dataran tinggi lebih ideal.
- Datang Lebih Awal
- Tiba 30–60 menit sebelum fase puncak membantu mata beradaptasi dengan gelap.
- Gunakan Tripod untuk Fotografi
Bagi fotografer, tripod sangat penting untuk menjaga stabilitas kamera. Lensa telefoto 200mm ke atas akan memberikan detail lebih tajam. Agar hasil lebih memuasakan maka keadaaan langit cerah adalah kunci utama. Awan tipis saja bisa menghalangi detail fase total.
Momentum gerhana bulan 2026 juga bisa dijadikan sebagai sarana edukasi untuk anak karena dengan adanya gerhana maka alam menjadi laboratorium terbuka untuk mendapatkan ilmu selain yang didapat dari sekolah.
Karena dalam gerhana bulan 2026 terdapat edukasi seperti konsep orbit dan revolusi bulan, kemudian sekaligus mengenal sistem dari tata surya lengkap dengan mekanisme bayangan yang dikenal umbra dan penumbra hingga interaksi gravitasi.
Pengalaman menyaksikan langsung fenomena astronomi terbukti lebih efektif menumbuhkan minat sains dibandingkan hanya membaca teori di buku.
Bagi orang tua, ini menjadi kesempatan mengenalkan astronomi kepada anak secara sederhana namun membekas. Gerhana bulan 2026 mengingatkan bahwa peristiwa kosmik terjadi dengan presisi yang dapat dihitung hingga detik. Tidak ada unsur mistis dalam mekanismenya—semuanya dapat dijelaskan oleh ilmu astronomi.
Namun di balik kepastian ilmiah itu, ada rasa takjub yang tetap terasa setiap kali Bulan perlahan berubah warna di langit malam.
Bagi pembaca, pertanyaannya bukan hanya “kapan gerhana terjadi?”, melainkan “apa yang bisa dimanfaatkan dari momen ini?”
Apakah sekadar menonton dan memotret?
Atau menjadikannya pintu masuk untuk lebih mengenal sains, mengajak keluarga berdiskusi, atau bahkan memulai hobi astronomi?
Langit malam akan terus menghadirkan peristiwa menarik. Gerhana bulan 2026 adalah salah satunya—dan kesempatan terbaik selalu datang bagi mereka yang bersiap.