Takjil Buka Puasa yang Paling Diburu: Tren, Dampak, dan Tips Memilih yang Sehat

kontenstore.com – Takjil buka puasa kembali menjadi primadona setiap Ramadan, bukan sekadar pelengkap berbuka, tetapi juga mencerminkan tren kuliner dan gaya hidup masyarakat. Pilihan yang tepat bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga berpengaruh pada kesehatan dan pengeluaran harian.
Takjil identik dengan makanan atau minuman ringan yang dikonsumsi saat azan magrib berkumandang. Dari kolak pisang hingga es buah, tradisi ini telah mengakar kuat di berbagai daerah di Indonesia.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, terlihat pergeseran pola konsumsi. Takjil tidak lagi sebatas menu rumahan. Kemunculan pasar Ramadan, layanan pesan-antar, hingga kreasi takjil kekinian menunjukkan bahwa segmen ini telah berkembang menjadi peluang ekonomi musiman yang signifikan.
- Munculnya takjil modern seperti dessert box mini dan minuman boba versi Ramadan
- Peningkatan penjualan melalui platform digital
- Konsumen semakin mempertimbangkan aspek kesehatan
Berubahnya tren yang sebelumnya dominasi takjil adalah kolak dan gorengan. Meskipun takjil konvensional ini masih dicari namun kemunculan takjil modern sudah mulai menarik perhatian para pemburu takjil guna bersiap utuk membatalkan puasa saat berbuka di waktu magrib.
Perubahan ini menandakan bahwa takjil kini berada di persimpangan antara tradisi dan gaya hidup modern. Seiring dengan generasi Z, X, Y dan Alhpa maka kudapan untuk berbuka puasa juga muncul dengan gaya kekinian.

Tren Takjil Buka Puasa 2026
Mengacu pada data pencarian (Google Trends), kata kunci seperti “Menu Takjil Sehat” dan “Takjil Kekinian” melonjak hingga 300% setiap memasuki pekan kedua Ramadan. Hal ini didorong oleh generasi Z & Alpha yang cenderung mendikte pasar dengan preferensi makanan yang unik dan punya nilai cerita (storytelling).
Efek viralitas juga rupanya menjadi peran dalam merubah jens menu termasuk takjil buka puasa. Satu video TikTok tentang “Es Jelly Sultan” bisa mengubah pola konsumsi satu kota dalam semalam.
Artinya, meski menu modern sedang merajai timeline, menu tradisional tetap menjadi “jangkar emosional”. Banyak orang yang tetap kembali mencari gorengan atau kolak di minggu terakhir Ramadan demi mendapatkan rasa nostalgia rumah.
1. Takjil Manis Tetap Mendominasi
Menu klasik seperti kolak, es campur, dan kurma masih menjadi pilihan utama. Secara fisiologis, tubuh memang membutuhkan asupan gula cepat setelah seharian berpuasa.
Perlu juga diketahui oleh ANda bahwa mengonsumsi takjil manis dalam porsi wajar membantu memulihkan energi. Namun konsumsi berlebihan berisiko memicu lonjakan gula darah dan rasa lemas setelah berbuka.
2. Takjil Sehat Semakin Diminati
Istilah seperti takjil rendah gula, minuman infused water, dan camilan tinggi serat mulai sering muncul di pasar Ramadan. Hal ini tentu dipengaruhi beberapa hal seperti;
- Meningkatnya kesadaran kesehatan
- Gaya hidup diet seimbang
- Edukasi nutrisi yang lebih luas
Taka ada aturan yang mebgharuskan tinggi gula atau rendah gula saat mengkonsumsi takjil terlebi lagi takjil buka puasa. Hanya saja kesadaran untuk menyesuaikan dengan kebutuhan maka itulah yang sebaiknya dikonsumsi.
Ketika memiliki gula darah tinggi maka sadarlah kebutuhan gula yang di konsumsi tidak terlalu berlebih, begitupula hal lain ketika memiliki riwayat hipertensi maka makanan asin bisa dikonsumsi hanya saja jnagan berlebihan. Mulailah membaca label bahan dan memilih takjil dengan kandungan gula serta minyak yang lebih terkontrol.
3. Fenomena “War Takjil” dan Dampak Sosial
Di berbagai kota, antrean panjang bahkan fenomena rebutan takjil viral di media sosial. Selain menunjukkan tingginya permintaan, kondisi ini juga mencerminkan bahwa fenomena takjil buka puasa selalu menjadi atensi siapapun.
Alhasil tak lepas dari lonjakan konsumsi impulsif dari jenis makanan tersebut, kemudian pengaruh dari perilaku panic buying menjelang magrib yang gen z sebut sebagai “takjil war”, dan peluang besar bagi pelaku UMKM kuliner.
Tips Memilih Takjil Buka Puasa yang Lebih Bijak
Agar momen berbuka tetap nikmat sekaligus sehat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berikut panduan praktis yang bisa diterapkan agar aman ketika memilih takjil buka puasa.
Prioritaskan yang mudah dicerna adalah mutlak karena setelah lambung kosong selama lebih dari 5 jam maka perlu asupak yang mudah dicerna, bukan ahnaya saat mengunyah tetapi saat makanan itu ditelan dan berada dilambung.
Tubuh yang berpuasa seharian membutuhkan asupan ringan terlebih dahulu, kurma bisa menjadi pilihan utama didampingi dengan air putih atau infused water. Atau Anda bisa mengkonsumsi langsung buah segar dengan kadar asam normal dan memiliki kadar air serta manis yang cukup.
Sup hangat ringan juga bisa menjadi pilihan terbaik unutk dijadikan sebagai takjil buka puasa, jangan lupa untuk membatasi konsumsi gorengan sebagai takjil utama.
Gorengan memang menggoda, tetapi konsumsi berlebihan dapat menyebabkan beberapa hal seperti; perut cepat begah, kemudian rasa kantuk setelah berbuka dan yang tak kalah penting perlu diperhatikan adalah lonjakan kolesterol jika rutin. Jika tetap ingin gorengan, batasi 1–2 potong dan imbangi dengan makanan berserat.
Takjil buka puasa tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan. Namun perubahan tren menuntut konsumen lebih cermat dalam memilih. Menyeimbangkan kenikmatan, kesehatan, dan pengeluaran adalah kunci agar tradisi ini tetap membawa manfaat.