Tren “Slow Traveling” 2026, Kualitas Perjalanan Lebih Berharga Daripada Kuantitas Destinasi

kontenstore.com – Tren slow traveling muncul di penghujung 2025. Secara global para penyuka perjalanan bergeser dari ambisi mengunjungi banyak destinasi atau negara tujuan sebagai kepuasan dalam menempuh dan menikmati perjalanan menjadi pendalaman pengalaman di satu lokasi saja. Pergeseran ini dipicu oleh meningkatnya biaya aviasi dan keinginan wisatawan untuk meminimalkan jejak karbon serta kelelahan mental.
Setelah bertahun-tahun didominasi oleh fenomena Instagrammable spots, industri pariwisata melihat kembalinya minat pada slow traveling.
Wisatawan kini cenderung menghabiskan waktu minimal satu minggu di satu kota atau desa kecil daripada melakukan euro-trip kilat yang melelahkan.
Data menunjukkan bahwa durasi tinggal rata-rata (length of stay) meningkat sebesar 15% di awal tahun 2026. Hal ini tidak hanya dipengaruhi oleh fleksibilitas work from anywhere, tetapi juga oleh kesadaran akan kualitas istirahat yang sesungguhnya.
Sedikit nya ada tiga sumber yang bisa menjadikan asumsi bahwa length of stay di tahun 2026 akan meningkat 15%, yakni yang pertama adalah melalui UN Tourism (dahulu UNWTO) yang melaporan World Tourism Barometer menunjukkan tren pemulihan volume perjalanan internasional yang kini lebih mementingkan aspek keberlanjutan dan durasi tinggal yang lebih lama untuk mengompensasi biaya tiket pesawat yang naik.
Kemudian rujukan data kedua adalah laporan Tren Airbnb & Booking.com (2025). Perusahaan-perusahaan tersebut melaporkan lonjakan signifikan pada kategori pemesanan “Long-stay” (lebih dari 7-10 hari), terutama di wilayah Asia Tenggara dan Eropa Selatan.
Dan yang terakhir adalah dari Skift Travel Health Index yang memberikan indikator indeks secara konsisten yang menunjukkan bahwa meskipun frekuensi perjalanan sempat fluktuatif, pengeluaran per kunjungan meningkat seiring dengan bertambahnya durasi menginap wisatawan.
Sebagai pelengkap, kontenstore.com juga menyertakan rilis berkala BPS Indonesia sepanjang 2025 yang menyebutgkan bahwa kunjungan Wisman (wisatawan mancanegara) hingga September 2025, Indonesia mencatat 11,43 juta kunjungan, naik sekitar 9,04% secara tahunan (y-on-y).
Sementara data lama menginap (Length of Stay) rata-rata di hotel bintang di beberapa wilayah strategis (seperti Kalimantan Barat dan Bali) menunjukkan stabilitas di angka 1,5 hingga 2,5 malam untuk hotel bintang. Namun, data akomodasi non-hotel (seperti short-term rentals) justru menunjukkan durasi lebih panjang, rata-rata 6,2 malam (menurut data pembanding industri dari Phocuswright 2025).
Langkah ini membawa dampak positif bagi ekosistem lokal. Uang yang dikeluarkan wisatawan lebih banyak terserap oleh UMKM, penginapan lokal, dan pemandu wisata independen, bukan sekadar maskapai penerbangan atau jaringan hotel internasional besar.
Secara ekologis, pergeseran tren menjadi slow traveling di 2026 ini berdampak pada pengurangan frekuensi penerbangan jarak pendek antar-kota efektif menurunkan emisi karbon individu secara signifikan.
Tren Slow Traveling 2026 dan Strategi Hadapi Naiknya Biaya Akomodasi
Bagi Anda yang merencanakan traveling tahun ini, realitas ekonomi tidak bisa diabaikan. Inflasi pada sektor jasa transportasi mengharuskan perencanaan yang lebih matang.
Untuk itu Anda bisa memanfaatkan pemesanan berbasis data dengan menggunakan alat prediksi harga yang memanfaatkan AI untuk menentukan waktu termurah membeli tiket.
Jika sudah ada jadwal melakukan perjalanan maka Anda bisa mengubah destinasi alternatif (Second-city Tourism). Alih-alih pergi ke Tokyo atau Paris, wisatawan mulai melirik kota lapis kedua seperti Fukuoka atau Lyon yang menawarkan budaya serupa dengan harga 30% lebih terjangkau.
Program miles dan poin kartu kredit kembali menjadi instrumen krusial untuk menekan biaya overseas travel. Hanya saja untuk cara ini Anda pelu lebih berhati-hati karena jika tidak disiplin unutk melakukan pembayaran di kemudian hari maka akan memberikan efek negatof di keuangan Anda karena pembiayaan ini memanfaatkan kartu kredit.

Mengapa Slow Traveling Lebih Menguntungkan?
Berdasarkan data di atas, Anda bisa menghemat hampir 40-45% dari total anggaran. Namun, nilai sebenarnya bukan hanya pada angka, melainkan pada kualitas pengalaman:
1. Efisiensi Biaya Akomodasi
Dalam traveling gaya cepat, Anda cenderung memilih hotel di pusat kota dekat stasiun besar untuk mengejar kereta pagi. Harganya sangat mahal. Dengan slow traveling, Anda bisa menyewa apartemen dengan dapur di area residensial yang lebih tenang. Anda bisa menghemat biaya makan dengan sesekali memasak bahan lokal dari supermarket.
2. Menghilangkan “Stres Logistik”
Pindah kota setiap 2 hari menghabiskan energi untuk packing, check-out, mencari loker, dan mengejar jadwal kereta. Waktu produktif Anda habis di jalan. Dalam gaya lambat, Anda memiliki “basecamp”. Anda bisa bangun lebih siang dan benar-benar menikmati suasana kafe lokal tanpa merasa berdosa karena “ketinggalan objek wisata”.
3. Hubungan Emosional dengan Destinasi
Wisatawan gaya cepat biasanya hanya mendapatkan foto di depan ikon kota (seringkali penuh sesak turis lain). Wisatawan gaya lambat punya waktu untuk berbincang dengan pemilik toko lokal atau menemukan “hidden gems” yang tidak masuk dalam algoritma media sosial.
Jika Anda ingin mencoba transisi ke slow traveling, saya sarankan untuk tidak langsung ekstrem menetap di satu desa. Anda bisa mencoba Metode Hub-and-Spoke.
- Pilih satu kota besar sebagai “Hub” (pusat tinggal).
- Lakukan perjalanan singkat (day-trip) ke kota-kota kecil di sekitarnya (“Spoke”).
- Anda tidak perlu membawa koper besar setiap kali berpindah, namun tetap mendapatkan variasi pemandangan.
Strategi Wisata Saat Musim Hujan, Tetap Slow Straveling

Dalam slow traveling saat musim hujan, kamar hotel bukan sekadar tempat tidur, melainkan pusat aktivitas. Untuk itu pesanlah penginapan yang memiliki karakter kuat, seperti vila dengan pemandangan lembah, boutique hotel dengan perpustakaan yang nyaman, atau akomodasi yang memiliki fasilitas wellness (spa dan sauna).
Anda tidak akan merasa rugi meski harus menghabiskan waktu 5-6 jam di dalam ruangan karena atmosfer tempat tinggal Anda sudah memberikan “pengalaman wisata”.
Berburu kuliner “Comfort Food” lokal juga tak kalah seru dan menantang. Hujan adalah waktu terbaik untuk mengeksplorasi sisi gastronomi sebuah daerah. Daripada mencari restoran fine dining yang jauh, cobalah riset mengenai hidangan berkuah atau hangat yang khas di daerah tersebut.
Kunjungi pasar tradisional di pagi hari atau kedai kopi legendaris. Duduk berjam-jam sambil mengamati interaksi warga lokal di kedai kopi saat hujan turun adalah esensi sejati dari slow traveling.
Wisata kurasi di ruang tertutup (Indoor Gems) juga bisa Anda lakukan dalam rangka slow traveling. Gunakan waktu hujan untuk mengunjungi tempat-tempat yang sering dilewati turis kilat karena dianggap “memakan waktu lama”.
Anda bisa berkunjung juga ke Museum & Galeri Seni karena tempat ini menawarkan perlindungan dari hujan sekaligus asupan budaya yang mendalam.
Kemudian bisa juga berkunjung ke workshop kriya dengan mengikuti kelas keramik, membatik, atau memasak selama 3-4 jam. Ini adalah cara terbaik untuk tetap produktif tanpa harus melawan cuaca namun tetap dalam ranah slow traveling.
Saat musium hujan slow traveling memerlukan persiapan, dan Anda secara tak langsung telah berinvestasi pada perlengkapan yang tepat. Ketika musim hujan misalnya, pastikan jangan membiarkan hujan merusak mood Anda karena pakaian yang basah.
Lengkapi perlengkapan Anda dengan peralatan yang baik dan cukup tangguh seperti tas punggung tahan air (waterproof) untuk melindungi gadget.
Kemudian juga sediakan pakaian berbahan quick-dry tremasuk membawa payung lipat yang kuat dan ringan karena hal ini adalah kewajiban untuk perlindungan saat mobilitas tetap terjaga.
Manfaatkan “Vibe” fotografi melankolis karena momen hujan bisa memberikan pencahayaan yang dramatis dan pantulan cahaya yang indah pada aspal atau genangan air (refleksi). Ini adalah waktu emas bagi Anda yang hobi fotografi untuk menangkap sisi lain sebuah kota yang lebih puitis dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk turis di musim panas.
Masa Depan Traveling 2026
Wisatawan tidak lagi terjebak dalam ambisi mengunjungi banyak kota dalam waktu singkat. Berdasarkan data industri terbaru, terdapat peningkatan durasi tinggal (hingga 19% pada segmen tertentu) karena efisiensi biaya dan keinginan untuk menghindari kelelahan mental. Kualitas di satu lokasi kini lebih dihargai daripada kuantitas tanda stempel di paspor.
Secara kalkulasi ekonomi, pendekatan slow travel mampu menekan anggaran hingga 40-45%. Penghematan terbesar berasal dari pengurangan biaya transportasi antar-kota (seperti tiket Shinkansen atau penerbangan domestik) serta kemampuan untuk memilih akomodasi yang lebih fungsional dan ekonomis di area residensial.
Musim hujan bukan lagi penghalang, melainkan kesempatan untuk mengeksplorasi sisi “melankolis” dan autentik sebuah destinasi. Dengan strategi pemilihan akomodasi yang memiliki karakter kuat serta fokus pada wisata indoor (museum, galeri, dan kuliner), wisatawan tetap bisa mendapatkan nilai perjalanan yang tinggi meski mobilitas luar ruangan terbatas.
Perjalanan di tahun 2026 menuntut perencanaan yang lebih berbasis data dan sadar lingkungan. Mengadopsi metode Hub-and-Spoke (menetap di satu pusat dan melakukan perjalanan harian) adalah solusi paling seimbang bagi Anda yang ingin menjelajah namun tetap menjaga kenyamanan dan isi dompet.
Inti dari slow traveling 2026 saat ini adalah tentang kedekatan. Dekat dengan budaya lokal, dekat dengan komunitas sekitar, dan yang terpenting, kembali dekat dengan diri sendiri melalui ritme perjalanan yang lebih manusiawi.